Pemanfaatan "Gadget" dalam Program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) Kemdikbud di Sekolah Dasar

Memanfaatkan gadget dalam Gerakan Literasi Sekolah yang digagas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia merupakan keniscayaan, mengingat gadget sudah sangat akrab di kalangan anak Sekolah Dasar terutama di kota-kota besar. Sepuluh atau duapuluh tahun yang akan datang, bukan tidak mungkin gadget akan menjadi kebutuhan yang lazim bagi anak-anak Sekolah Dasar hingga ke pelosok desa.
Menurut data tahun 2014 yang dilansir dari sini setidaknya 30 juta anak-anak dan remaja di Indonesia merupakan pengguna internet, dan media digital saat ini menjadi pilihan utama saluran komunikasi yang mereka gunakan. Sedangkan dari penelitian yang dilakukan Central Connecticut State University pada bulan Maret 2016 lalu terkait "World Most Literate Nations" menyatakan bahwa Indonesia menempati peringkat 60 dalam hal kebiasaan membaca masyarakat di dunia. Dari dua data ini, perlu kiranya membuat suatu terobosan bagaimana memanfaatkan gadget, yang merupakan realita kehidupan era digital sebagai media yang mampu meningkatkan minat baca bagi anak-anak generasi masa depan yang terintegrasi dalam program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) Kemdikbud.
Oleh karena itu, tulisan ini akan mengupas problematika dan solusi terkait pemanfaatan gadget sebagai ruang baca baru untuk anak-anak Sekolah Dasar. Ada tiga hal pokok yang menjadi pembahasan artikel ini yaitu; pertama, pentingnya kreatifitas guru dalam pemanfaatan gadget; kedua, membuat daftar laman web bacaan yang ramah bagi anak; dan ketiga, memanfaatkan media sosial untuk tugas membaca. Penulis melihat, sudah saatnya kita segera berinovasi dengan gegas mengingat realita perkembangan teknologi informasi yang sedemikian pesatnya. Gadget haruslah diracik sebagai kawan bagi anak kita, bukan lawan mereka.
Pengguna internet di kalangan anak sekolah dasar menunjukkan angka yang cukup besar. Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Internet Indonesia tahun 2016, sebanyak 768 ribu pengguna internet adalah anak usia 10-14 tahun. Umumnya mereka mengakses internet selain untuk mengerjakan tugas sekolah juga untuk kesenangan pribadi, seperti menonton youtube, bermain game online, atau bergaul di media sosial, dan kebanyakan mengaksesnya lewat gadget.
Meskipun banyak penelitian yang menyatakan pengaruh buruk gadget terhadap anak, namun gadget adalah realita teknologi yang tidak bisa dipungkiri. Kita tidak bisa melarang anak menggunakan gadget, karena mereka tumbuh di era digital, di tengah serbuan teknologi yang berkembang pesat. Yang seharusnya dilakukan adalah bagaimana memanfaatkan gadget untuk menunjang kegiatan belajar mengajar di sekolah, khususnya terkait program Gerakan Literasi Sekolah Kemdikbud. Guru diharapkan mampu berinovasi dalam memanfaatkan gadget di lingkungan sekolahnya, kaitannya dengan menumbuhkan minat baca anak didiknya.
Minimnya akses buku-buku bermutu menjadi salah satu faktor rendahnya minat baca di sekolah dasar. Bisa jadi karena harganya yang mahal, atau keberadaan buku bermutu itu sendiri yang memang langka. Buku bermutu yang penulis maksud disini adalah buku-buku yang memang khusus untuk anak sesuai usianya, dimana anak akan lebih tertarik membaca buku bergambar dengan warna warna yang mencolok, serta ketebalan yang lebih terjangkau anak sekolah dasar.
Buku yang ada di perpustakaan sekolah kebanyakan adalah buku pelajaran, buku paket, dan buku-buku terbitan lawas yang cenderung membosankan. Jarang ada majalah anak, buku cerita bergambar atau komik yang biasanya disukai anak. Kita cenderung menganggap itu semua sebagai bacaan yang tidak mendidik. Padahal majalah atau komik bisa memancing minat baca anak.
Namun di era yang serba digital ini, kemudahan dan kepraktisan menjadi alasan orang lebih memilih buku digital daripada buku cetak. Selain itu jauh lebih ekonomis mengunduh atau mengakses buku digital daripada membeli buku "sungguhan" yang harganya lebih mahal. Kita hanya perlu modal gadget dan koneksi internet. Kecenderungan ini seharusnya dimanfaatkan oleh guru untuk lebih mengoptimalkan penggunaan gadget di lingkungan sekolahnya untuk menumbuhkan minat baca siswanya.
Ada beberapa laman web yang berisi bacaan-bacaan bagus untuk anak yang berhasil penulis kumpulkan. Ada  bobo grid, yang merupakan versi digital dari majalah bobo, salah satu majalah anak-anak paling hits era 90-an, dan satu-satunya majalah anak yang masih eksis sampai sekarang. Ada pula cerita kecil yang berisi kumpulan cerita dan kumpulan dongeng untuk anak-anak, serta artikel tentang ilmu pengetahuan umum. Ada majalah anak islami digital Diaries Kidz yang dijual di aplikasi Scoop. Ada kata baca yang berisi ebook untuk anak yang cukup bermutu. Ada lagi ebook anak . Memang jumlah tersebut masih sangat sedikit, namun jika program membaca melalui gadget ini sukses dilaksanakan, penulis yakin akan banyak laman-laman web membaca baru yang bermunculan dengan konten yang lebih baik.
Pemerintah sendiri melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebenarnya sudah menerbitkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Salah satu hal pokok yang tertuang dalam peraturan tersebut yaitu kewajiban membaca buku nonteks pelajaran selama 15 menit sebelum jam pembelajaran dimulai setiap hari di sekolah. Berdasarkan amanat itu, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Ditjen Dikdasmen) meluncurkan program Gerakan Literasi Sekolah (GLS).
Namun dalam prakteknya banyak sekolah yang mengganti 15 menit tersebut dengan membaca Qur'an, mengulang hafalan Qur'an, atau bahkan tidak melaksanakan program tersebut. Alasannya cukup beragam, mulai dari sekolah tidak mempunyai perpustakaan yang memadai, sampai respon siswa yang kurang baik ditambah guru yang kurang luwes dalam memandu pelaksanaan program membaca 15 menit, sehingga tujuannya kurang tercapai. Padahal jika dilaksanakan dengan betul-betul, program membaca 15 menit membawa manfaat yang cukup besar dalam menumbuhkan minat baca siswa. Seperti yang dituturkan Wijaya, seorang guru di SMPN Satap 4 Cileles Banten, yang menceritakan pengalamannya di blog pribadinya, program tersebut membawa manfaat yang besar di lingkungan sekolahnya. Terbukti ada siswa dari yang tidak bisa membaca sama sekali sampai akhirnya kecanduan membaca buku.
Disini penulis menawarkan sebuah ide sederhana berangkat dari program GLS yang dicanangkan pemerintah. Bagaimana agar peraturan membaca buku non teks pelajaran selama 15 menit setiap hari tetap berjalan, namun juga siswa tetap menikmati membaca buku bahkan pada akhirnya akan keranjingan membaca, ditengah minimnya koleksi buku-buku anak di perpustakaan sekolah.
Diatas penulis sudah menyebutkan beberapa laman web yang bisa diakses guru maupun siswa. Guru bisa menugaskan siswa untuk membaca minimal 1 cerita tiap anak, setiap hari. Kemudian esoknya sebelum jam pelajaran dimulai, siswa diminta menceritakan kembali apa yang sudah dia baca dirumah. Cukup 15 menit setiap pagi untuk mendengarkan anak-anak bercerita dengan bahasa mereka sendiri.
Untuk sekolah dasar yang mayoritas siswanya membawa gadget, baik smartphone maupun tablet, bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk membaca buku digital 15 menit setiap hari melalui gadgetnya. Kemudian mereka diminta membuat kesimpulan dari hasil bacaannya dan mempostingnya di status facebook. Agar semakin terpacu, guru bisa mengadakan kompetisi "like". Status yang paling banyak mendapat like dari guru dan teman-temannya menjadi pemenang dan anak diberi reward, bisa berupa bintang prestasi atau hadiah buku bacaan.
Remaja tanggung usia kelas 5 atau 6 SD umumnya sudah mengenal instagram. Media sosial yang biasanya jadi ajang pamer foto ini bisa dimanfaatkan untuk wadah pamer hasil membaca buku anak-anak. Caranya bisa dengan memposting foto selfie bersama buku yang sudah selesai dibaca kemudian caption-nya berisi quote atau kata-kata yang paling menarik dari buku itu.
Media youtube juga bisa dimanfaatkan untuk mengajak anak-anak membaca buku. Sekolah bisa membuat channel youtube dan secara rutin mengunggah video kegiatan membaca buku nonteks pelajaran 15 menit setiap pagi, atau mengunggah video kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan literasi lainnya. Akan lebih baik lagi jika sekolah membuat video khusus promosi pentingnya membaca buku bagi generasi muda.
Masih banyak cara yang bisa dilakukan untuk mendekatkan anak dengan buku melalui gadget. Semua kembali pada kemauan guru dan pihak-pihak yang berwenang di sekolah. Jika membaca buku cetak mulai terasa membosankan, tidak ada salahnya membaca buku digital bukan?

Kesimpulan
Teknologi yang berkembang sangat pesat, khususnya di bidang telekomunikasi haruslah dimanfaatkan secara optimal, termasuk dalam dunia literasi. Anak-anak yang tumbuh di  era digital tidak bisa dipisahkan begitu saja dari gadget yang merupakan salah satu produk kemajuan zaman. Tugas kita sebagai orangtua dan guru adalah bagaimana meramu gadget agar bisa menjadi kawan yang baik bagi anak kita. Tidak sulit sebenarnya, hanya diperlukan sedikit inovasi agar program Gerakan Literasi Sekolah Kemdikbud bisa tetap berjalan dengan menyenangkan dan akhirnya membaca bisa menjadi budaya bangsa Indonesia.
https://www.kompasiana.com/.../pemanfaatan-gadget-dalam-program-gerakan-literas