Mengapa Anda Harus Membaca dan Menulis


Membaca  sangat erat dengan kemampuan seseorang untuk memahami simbol-simbol sebagai objek bacaan. Sebaliknya mengekspresikan apa yang dibaca yang telah terakumulasi dalam pikiran seseorang untuk dituangkan dalam bentuk simbol-simbol adalah bagian dari pekerjaan menulis.  Seseorang  yang memiliki ilmu dan kemampuan spesifik dia akan mampu membaca dengan baik sekaligus menulis. Problemnya, kebanyakan dari kita yang seharusnya gemar membaca tapi rendah minat baca, demikian juga mereka yang banyak bacaannya (baca: ilmu pengetahuan) sedikit diantara mereka yang mampu (baca: gemar) menulis. Jadi membaca dan menulis adalah  “pekerjaan” yang mencerminkan luas dan dalamnya  ilmu dan bernasnya peradaban yang dimiliki seseorang.

Dalam konteks pemberdayaan sumber daya manusia, penyediaan bahan bacaan adalah bagian terpenting unntuk melahirkan peradaban. Namun, sejumlah bacaan tersedia juga tidak menjadi jaminan munculnya peradaban tanpa dibarengi dengan tumbuhnya minat membaca. Demikian juga halnya, peradaban itu tidak akan berubah dan berkembang tanpa ada inisiasi penulisan kembali. Sehingga minat baca dan menulis adalah menjadi penting sebagai simbol pemberdayaan peradaban.

Baca-tulis dalam perspektif theologis.

Dalam pendekatan theologis  membaca dan menulis adalah bagian esensial dari anjuran agama yang akan menunjukkan jatidiri kemanusiaan. Naluri seseorang untuk melibatkan diri untuk membaca adalah bersifat fitrah insani. Dengan membaca seseorang akan diilhami oleh suatu pola pikir baru yang akan memotivasinya untuk diterapkan pada kesempatan lain. Dan saya yakin, dalam setiap event kita telah memunculkan keinginan untuk menerapkan pola pikir baru kita dari apa yang dapat kita baca. Alur pikir seperti ini sarat dengan muatan normatif, betapa tidak, Islam telah mem”proklamir”kan bahwa lima ayat pertama turun sebagaimana firmanNya;

Bacalah  dengan nama Tuhan anda yang telah mencipta. Mencipta manusia dari segumpal darah beku. Bacalah dan Tuhan anda Maha Pemurah yang telah mengajarkan menggunakan pena mengajar manusia ilmu yang belum diketahuinya (QS al-Alaq 96: 1-5).

Perintah tersebut adalah babak baru pembebasan manusia dari keterbelakangan, spirit dari firman tersebut adalah menyuruh membaca, belajar menulis dan belajar ilmu pengetahuan. Demikian juga dalam kesempatan lain ditegaskan, bahwa Allah swt sangat menghargai tinta dan pena sebagai alat tulis, sehingga Dia yang Maha Agung bersumpah dengan tinta dan pena. Dan tentu saja Dia lebih menghargai lagi penulis dan tulisannya yang bermanfaat yang mengangkat derajat dan peradaban manusia. Semangat ini tersirat dalam firmanNya:

Demi tinta dan pena. Demi naskah  yang mereka tulis, sungguh dengan karunia Tuhan, anda bukan orang gila, sungguh untuk anda tersedia pahala tiada ternilai, sungguh anda memiliki budi pekerti yang tinggi. (QS: al-Qalam 68: 1-4).

Dalam persfektif bahwa membaca dan menulis sebagai fitrah insani maka refleksi pemaknaan dua firman tersebut haruslah dijadikan pendorong spirit syar’i seseorang untuk membaca dan menulis terus menerus. Karena hal itu adalah perbuatan yang membanggakan. Tinta dan pena adalah karunia Tuhan yang harus digunakan untuk melahirkan peradaban dan mengajak manusia ke dunia ilmu dan peradaban.

Kondisi itu semua akan mencerminkan pergolakan pemikiran seseorang yang harus disertai dengan membaca. Demikian juga refleksi dari pergolakan itu tercermin dari apa yang dituliskan seseorang. Bacalah buku, majalah, alam, masyarakat dan manusia. Bukalah diri untuk membaca karena apa yang dibaca akan ikut membentuk karakter sebagaian pandangan seseorang. Dalam konteks ini memilih bahan bacaan adalah sebuah seni terpenting membentuk karakter kepribadian yang diridhoiNya.

Acuan dasar moral untuk membaca haruslah mengacu lepada penegasan tersebut bahwa membaca dengan nama Tuhan yang telah menciptakan makhluk yang ada di dunia termasuk menciptakan manusia yang membaca. Membaca, mengamati, mencermati pada dasarnya memiliki arti penting dalam kehidupan kemanusiaan. Demikian juga menuliskan kembali apa yang dibaca. Sehingga produk dari membaca adalah statu understanding tentang suatu pengetahuan atau value. Dan juga dijadikanNya tinta dan pena sebagai mediasi pembelajaran melahirkan peradaban. Inilah fitrah insani  yang harus dilahirkan dilingkungan kita. Meskipun akan dihadapkan dengan tantangan untuk mengacu lepada membaca dan menulis yang sesungguhnya.

Sesungguhnya  memahami apa yang ada adalah bagian dari pola penalaran membaca dan menuliskan kembali apa yang dibaca dari sebuah rekaan tanda atau simbol adalah pekerjaan mulia. Bagaimana pun juga dunia ini penuh dengan artefak-artefak tanda dan simbol. Tanda dan simbol tersebut bukan apa-apa tanpa makna yang menyertainya, sedangkan makna itu juga tidak bisa hadir begitu saja melainkan hasil dari kesepakatan umum di masyarakat mengenai arti tanda tersebut. Jadi makna itu bersifat subyektif.

Bagaimana seharusnya!
Sebagai manusia yang beragama, sejatinya pekerjaan membaca dan menulis haruslah dijadikan model dan bagian dari kehidupan. Membaca apa yang tertulis, membaca tanda dan simbol. Dan terlebih penting bagaimana mengekspresikan kembali apa yang dibaca tersebut. Dalam konteks hari ini, kemajuan seseorang dalam pola pikirnya adalah mereka yang mampu membaca tanda-tanda zaman dan perubahan menuju peradaban. Lingkungan kemanusia akan maju disertai dengan tinggi dan dalamnya ilmu yang dimiliki. Kondisi ini tidak dapat dilepaskan dari membaca dan menulis yang telah di”paten”kan al-Quran.

www.aktualita.co/mengapa-anda-harus-membaca-dan-menulis oleh DR. Syamsul Rizal