Mengenang Ismail Marzuki, Pahlawan Nasional Asal Jakarta!

Di Bulan Mei ini, ada momen nasional yang seharusnya diperingati oleh bangsa ini, khususnya oleh warga Jakarta. Momen itu adalah mengenang perjuangan salah satu pahlawan nasional, Ismail Marzuki yang merupakan orang asal Jakarta. Kenapa Bulan Mei? Karena di bulan Mei, sang maestro musik Indonesia ini dilahirkan dan juga meninggal dunia. Oleh karena itu, saya sebagai warga Jakarta akan mengenang perjuangannya dan kemudian menuliskan di sini.

 Ismail Marzuki terkenal sebagai penulis lagu Indonesia. Sebagai seorang penulis lagu, Ismail Marzuki banyak mendapatkan penghargaan. Yang terbaru adalah sebagai penulis lagu nomor satu di Indonesia, menurut majalah Rolling Stone edisi Februari tahun 2014, di antara seratus penulis lagu terbaik di bumi pertiwi. Jauh sebelum itu, dulu di masa Presiden Sukarno, Ismail Marzuki mendapatkan penghargaan Wijaya Kusuma dan pada tahun 2014 dinobatkan sebagai pahlawan nasional di masa presiden Susilo Bambang Yudhoyono. 

Bagaimana kiprah Ismail Marzuki dalam perjuangan kemerdekaan? Ismail Marzuki banyak berjasa dalam menyumbangkan lagu-lagu perjuangan sarat semangat kemerdekaan. Beberapa lagu perjuangan almarhum yang bernafaskan heroisme di antaranya yang terkenal adalah Sepasang Mata Bola dan Gugur Bunga. Sepasang Mata Bola ditulis tatkala berada dalam kereta menuju Yogjakarta masa mempertahankan kemerdekaan. Walau lagu itu bertempo lambat, namun liriknya tidak dipungkiri membuat setiap pejuang berkobar semangat juangnya. Beberapa penggal liriknya sebagai berikut: 

Lindungi aku pahlawan daripada si angkara murka 

Dan di kalimat terakhir dalam lirik Pergilah pahlawanku, jangan bimbang ragu, bersama doaku 

Lagu Sepasang Mata Bola ini sangat disukai oleh presiden ke-3 BJ Habibie sehingga beliau saat itu meminta seorang komposer ternama Yazeed Djamin untuk memainkannya dalam sebuah konser piano. Lagu selanjutnya adalah Gugur Bunga. Lagu ini sangat populer bagi saya dan rakyat Indonesia, terutama saat Bulan September tanggal 30 datang, yaitu saat G30S. Jaman dulu, setiap malam tanggal itu, film G30S selalu diputar di TV dan lagu Gugur Bunga pun terdengar mengiringi adegan pemakaman pahlawan revolusi. Lagu yang menyayat hati dan membuat kita tertegun sedih itu, bagi saya benar-benar legenda, membuat emosi terdalam kita hanyut dalam kesedihannya, terkadang air mata pun tak kuasa untuk menahan.

Lagu lain yang mengobarkan semangat juang adalah Halo-halo Bandung. Walau ada yang menganggap ini bukan lagu asli Ismail Marzuki, namun bagi saya, almarhum menggelorakan lagu ini saat para pejuang membakar Bandung menjadi lautan api. Ini merupakan sebuah bentuk perjuangan dalam mengobarkan semangat juang tiada henti. 

Lagu-lagu lain yang beliau tulis dalam konteks memperjuangkan kemerdekaan adalah Pahlawan Merdeka, Selamat Datang Pahlawan Muda, Gagah Perwira dan Ke Medan Jaya. Kesemuanya berperan aktif dalam mengobarkan semangat perjuangan para pahlawan dalam kemerdekaan republik ini. 

Ismail Marzuki Asal Jakarta

Ismail Marzuki lahir di Jakarta tepatnya di Kampung Kwitang pada tanggal 11 Mei 1914, dari seorang ibu yang beberapa bulan setelah melahirkan Ismail, meninggal dunia. Beruntung, ayahanda Ismail masih ada. Ayahandanya, Marzuki, adalah seorang bapak yang religius dan aktif dalam kegiatan seni kampung seperti rebana, keroncong, dan gambus.

Ismail Marzuki kemudian tumbuh dan bersekolah di sekolah Belanda dan juga madrasah. Selain sekolah, Ismail punya hobi yang sama dengan bapaknya, yakni bermain musik, selain hobi aslinya saat remaja berenang di Kali Ciliwung. Berbagai alat musik dia miliki, termasuk rekamannya berupa piringan hitam dari berbagai jenis musik dan berbagai artis dunia. Oleh karena itulah Ismail mempunyai wawasan musik yang sangat luas untuk ukuran anak remaja saat itu.

Ketika dia besar, pekerjaannya pun sangat mendukung hobinya itu. Dia bekerja sebagai pekerja keliling yang mempromosikan dan menjual piringan hitam di Jakarta. Dari pekerjaannya ini, dia punya banyak kolega dari kalangan atas. 

Ismail Marzuki kemudian berkesempatan membentuk grup musik bernama Lief Java pada tahun 1934. Saat Belanda mendirikan radio NIROM (Nederland Indische Radio Omroep Maatshappij), Lief Java mengisi siarannya. Ketika ada radio yang cukup nasionalis muncul, yaitu VORO di Kramat Raya (Vereeniging voor Oostersche Radio Omroep), Lief Java bermain juga di sana live seminggu sekali di akhir pekan. Dari kesempatan ini, Ismail Marzuki dan grupnya semakin populer di masyarakat. 

Ismail Marzuki kemudian menikah dengan vokalis grup musiknya, Eulis Zuraida si Panon Hideung (salah satu lagu Ismail Marzuki yang terkenal), asal Bandung. Mereka kemudian tinggal mengontrak rumah di Gunung Sahari, kemudian di Gang Basaan Tanah Abang, dan juga di Kampung Bali, Jakarta. Karena tidak dikaruniai anak, mereka mengangkat anak bernama Rahmi Aziah. Rahmi ini anak dari saudaranya Eulis. Mereka pun hidup berkecukupan dengan fasilitas rumah dan mobil.

Ismail Marzuki wafat di umur 44 tahun, karena sakit paru-paru. Almarhum wafat di pangkuan Eulis setelah menyelesaikan lagunya yang berjudul Kasih Putus di Tengah Jalan. Lagu itu nampaknya dibuat sebagai penanda akhir hidup Ismail, yang dinyanyikan oleh Eulis saat pembaringan terakhir. Almarhum dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta. 

Penulis Produktif Beragam Lagu 

Ismali Marzuki dalam hidupnya dikenal sebagai penulis lagu yang sangat produktif, kurang lebih dua ratus lagu dalam kurun waktu 27 tahun aktif sebagai penulis. Lagu yang dihasilkannya sederhana tetapi beragam. Lagu-lagunya yang sederhana itu banyak yang abadi sampai sekarang, contohnya Juwita Malam yang dibawakan oleh band Slank. 

Ragam lagu Ismail Marzuki sangat luas, selain lagu perjuangan yang telah disebutkan di atas. Ada yang berisi tentang tanah air seperti Indonesia Pusaka dan Rayuan Pulau Kelapa. Kemudian tentang romantika perjuangan seperti Melati di Tapal Batas dan Selendang Sutera. Tentang Asmara seperti Jangan Ditanya dan Asmara Terpendam. Tentang korupsi pun ada, yaitu Yii dan Maraknya Korupsi. Yang bersifat sosial dan religi seperti Hari Lebaran, dan yang ringan seperti Kopral Jono. Lagu-lagunya kemudian dinyanyikan kembali oleh banyak penyanyi setelahnya seperti Titik Puspa, Koes Hendratmo, Grace Simon, dan Henny Poerwonegoro. Dalam bentuk piano atau orkestra pun banyak seperti yang dilakukan oleh pianis Jaya Suprana dalam Suita Marzukiana dan yang dilakukan oleh Jakarta Philharmonic Orchestra pada tahun 2013 dalam Menjelang 100 Tahun Ismail Marzuki. 

Demikian, tulisan saya untuk mengenang Sang Pahlawan Nasional asal Jakarta, Ismail Marzuki. Saya harap, dengan tulisan ini, kita dapat terus melestarikan lagu-lagunya, untuk bangsa Indonesia pada umumnya dan warga Jakarta khususnya. Sekian. Sumber bacaan: Seabad Ismail Marzuki Senandung Melintas Zaman, buku karangan Ninok Leksono yang diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas pada tahun 2014.