Mengenal Sejarah Hari Buku Nasional

MOMENTUM peresmian Perpustakaan Nasional pada 17 Mei 1980, di Jakarta, dicanangkan pula sebagai Hari Buku Nasional. Prosesi pencanangan yang kala itu dilakukan oleh Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) RI, Abdul Malik Fajar, sampai sekarang masih terus diperingati.

Mendiknas saat itu, Abdul Malik Fajar mengatakan, bangsa Indonesia sampai saat ini masih dihadang oleh dua pilihan, antara mempertahankan tradisi (lisan) dengan menjawab tuntutan informasi, yang berarti harus banyak membaca. Pergumulan yang terjadi sejak 32 tahun lalu itu bisa dikatakan sampai sekarang belum juga selesai, sehingga kebiasaan kita masih didominasi tradisi percakapan panjang dan sedikit membaca.

Ide adanya Hari Buku datang dari masyarakat perbukuan guna memacu minat baca masyarakat Indonesia, sekaligus menaikkan penjualan buku. “Kami ingin agar peringatan Hari Buku seperti Valentine’s Day, di mana pada hari itu setiap orang memberi sebuah buku kepada orang lain,” jelas Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) Arselan Harahap beberapa waktu lalu.

Malik Fadjar menyadari, membuat masyarakat gemar membaca memang agak sulit dilakukan, terutama kepada generasi muda kita yang terlanjur didominasi sistem komunikasi dengan telepon, namun sedikit membaca lembaran buku. Tetapi, karena strategisnya fungsi membaca, mendorong Malik mengajak manusia Indonesia agar gemar membaca. Selain mengetahui perkembangan termodern, dengan membaca buku kita juga bisa meramalkan masa depan.

Hari Buku Nasional juga diperingati dengan berbagai agenda dan kegiatan. Sementara 15 hari sebelumnya atau tepatnya pada 2 Meilalu, kita sudah memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Kedua peristiwa ini, setidaknya mengisyaratkan bahwa proses pendidikan dan buku itu berkaitan erat.

Ide awal pencetusan Hari Buku Nasional ini datang dari golongan masyarakat pecinta buku, yang bertujuan memacu minat atau kegemaran membaca di Indonesia, sekaligus menaikkan angka penjualan buku. Terbukti kemudian, sedikit banyaknya peringatan Hari Buku mampu memberikan dampak positif dalam menyadarkan masyarakat tentang pentingnya buku. Hari ini, setelah dicanangkan lebih dari tiga dasawarsa lalu, visi besar dari peringatan Hari Buku masih tidak jauh berbeda. Namun, ada beberapa hal yang masih perlu ditelisik dan dimaknai kembali secara lebih jauh.

Lembar kertas berjilid


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), buku adalah lembar kertas yang berjilid, berisi tulisan atau kosong. Tapi yang dimaksud dalam kaitannya dengan ini tentu buku yang berisi tulisan atau bahasan tertentu di dalamnya. Ada berbagai sumber yang menguak sejarah tentang buku. Sebagian referensi menyebutkan, buku pertama lahir di Mesir pada 2400-an SM setelah orang Mesir menciptakan kertas papirus. Kertas papirus yang berisi tulisan ini digulung. Gulungan tersebut merupakan bentuk buku yang pertama.

Sedangkan buku yang terbuat dari kertas, baru ada setelah Cina berhasil menciptakan kertas pada 200-an SM dari bahan dasar bambu yang di ditemukan oleh Tsai Lun. Penemuan kertas tersebut berhasil membawa banyak perubahan terhadap sejarah dunia. Toggak sejarah bermula dari kertas. Karena, rangkaian kata demi kata yang ada di setiap lembaran kertas tersebut menyimpan banyak “mukjizat”.

Betapa lembaran tersebut merupakan buah dari pemikiran, perenungan, penelitian, maupun penelaahan yang mendalam dari sang penulisnya. Sebelum menuangkan pengetahuannya ke dalam tulisan, terkadang seorang penulis buku harus rela menghabiskan waktu sekian lama untuk mendapatkan sebuah hasil yang valid dan maksimal untuk disajikan kepada pembaca.

Semua buku yang pernah ditulis dapat diambil manfaatnya. Hanya saja besar dan kecilnya manfaat itu berbeda-beda kadarnya. Ada kalanya mungkin manfaat itu khusus hanya untuk dinikmati orang tertentu, di kalangan umur tertentu, di wilayah geografis tertentu, maupun di bidang profesi tertentu. Namun secara keseluruhan, setiap orang bisa membaca buku apa saja. Ini tidak akan membuatnya menyesal, karena setiap buku selalu memberikan sesuatu yang baru kepada pembacanya.

Andrie Wongso pernah mengatakan: “Saya dan kita semua sungguh beruntung dan patut berterima kasih kepada para penulis buku. Mereka adalah para dermawan ilmu pengetahuan, pembuka jendela wawasan dunia, dan informasi bagi manusia, pembaca dan pembelajar”. Memang benar, kita sadari atau tidak, ternyata semua aspek kehidupan kita membutuhkan buku sebagai suatu yang primer.(**)

beritakotakendari.com/2015/05/mengenal-sejarah-hari-buku-nasional


Posted by: Dian Oktaviani