PERPUSTAKAAN DAN BUDAYA BACA

Bulan September merupakan bulan bersejarah bagi insan perpustakaan. Ini karena pada bulan tersebut untuk pertama kalinya pemerintah menetapkan Hari Kunjung Perpustakaan dan Bulan Gemar Membaca yang dicanangkan Presiden Soeharto pada 14 September 1995. Tujuannya, tak lain untuk meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia yang tergolong masih rendah. Sehingga momentum tersebut setiap tahunnya diperingati dengan bermacam kegiatan minat baca di berbagai perpustakaan di Indonesia termasuk Perpustakaan Nasional sebagai Instansi Pembina seluruh jenis perpustakaan di Indonesia.
Setelah 20 tahun pencanangan tersebut adakah perubahan budaya baca di Indonesia? dan sejauhmana perhatian pemerintah terhadap perpustakaan selama ini. Tentunya jika kita membaca penjelasan atas Undang Undang No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan maka kita akan mengetahui bahwa tenyata perpustakaan memiliki peran sangat penting dimana dalam penjelasan tersebut mengatakan bahwa “Keberadaan perpustakaan tidak dapat dipisahkan dari peradaban dan budaya umat manusia. Tinggi rendahnya peradaban dan budaya suatu bangsa dapat dilihat dari kondisi perpustakaan yang dimiliki”. Terlepas dari hal tersebut, sesungguhnya sejak tahun 1972 UNESCO telah memprioritaskan masalah pembinaan minat baca dan tahun tersebut diluncurkan program yang disebut Books for All (buku untuk semua orang), yang bertujuan untuk meningkatkan minat dan kegemaran membaca di masyarakat dunia.
Perpustakaan Indonesia
Perpustakaan dan minat baca, keduanya memiliki ketergantungan bagaikan mata uang logam, mereka adalah kedua sisinya. Seperti yang dikatakan Supriyanto, pustakawan utama Perpustakaan Nasional RI dalam sebuah tulisannya mengatakan bahwa misi utama perpustakaan adalah menyediakan layanan dan pemberdayaan koleksi pustaka.
Terlaksananya misi tersebut amat tergantung pada kondisi berkembangan minat dan kebiasaan membaca, tetapi sebaliknya minat dan kebiasaan membaca hanya dapat berkembang manakala tersedianya bahan bacaan yang memadahi, sesuai, cukup, menarik untuk dibaca dan mudah diperoleh bagi pemustaka.
Namun kenyataan jumlah perpustakaan di Indonesia berdasarkan sumber Pusat Pengembangan Perpustakaan dan Minat Baca Perpustakaan Nasional RI dari sekitar 1.538.560 unit kerja termasuk satuan pendidikan yang memiliki Perpustakaan hanya 149.509 atau 9,7 %. Selain itu jumlah pustakawan di Indonesia menurut Pusat Pengembangan Pustakawan yang dimuat di www.pnri.go.id sampai bulan ini hanya berjumlah 3.097 orang.
Bahkan untuk jenis perpustakaan SD sederajat belum memiliki pustakawan. Sangat ironis jika melihat kondisi di atas. Bagaimana bisa mewujudkan perpustakaan sebagai jantungnya pendidikan khususnya di jenjang pendidikan dasar yang seharusnya sarana ini diprioritaskan dan diperhatikan. Sebab dijenjang inilah perpustakaan berperan sebagai peletak dasar menumbuhkan budaya baca sejak usia dini.

Minat Baca
Meningkatkan minat baca tidaklah mudah, mengingat membaca merupakan suatu bentuk kegiatan budaya. Menurut pakar pendidikan, AR Tilaar, untuk mengubah perilaku masyarakat gemar membaca membutuhkan suatu perubahan budaya atau perubahan tingkah laku dari anggota masyarakat kita.
Mengadakan perubahan budaya masyarakat memerlukan suatu proses dan waktu panjang sekitar satu atau dua generasi, tergantung dari political will pemerintah dan masyarakat. Adapun ukuran waktu sebuah generasi adalah berkisar sekitar 15-25 tahun.
Jika waktu 15-25 tahun menjadi ukurannya, ternyata kondisi minat baca di Indonesia setelah 20 tahun pasc pencanangan bulan gemar membaca masih juga memprihatinkan. Pada awal pencanangan pada tahun 1992, hasil survei UNESCO menyebutkan, tingkat minat baca rakyat Indonesia hanya berada di urutan 27 dari 32 negara.
Sementara Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia di dunia pada waktu itu berada di posisi 105 dari 160 negara. Sedangkan pada tahun 2013, IPM Indonesia berada di peringkat 108 dari 187 negara. Yang lebih memprihatinkan pada tahun 2012, hasil survei lembaga pendidikan dunia UNESCO mengatakan bahwa minat baca masyarakat Indonesia yang paling rendah di ASEAN dengan indeks membaca masyarakat Indonesia yang baru sekitar 0,001. Ini artinya dari seribu penduduk, hanya ada satu orang yang masih memiliki minat baca tinggi. Angka ini jauh dibandingkan negara Singapura yang memiliki indeks membaca sampai 0,45.
Berdasarkan survei UNESCO menyebutkan bahwa anak-anak Indonesia hanya mampu mambaca 27 halaman buku per tahun. Dengan kata lain, anak-anak usia sekolah di Indonesia hanya mampu membaca satu halaman buku selama 15 hari.
Padahal sebagai perbandingan di Amerika Serikat satu penduduk bisa membaca 20 hingga 30 judul buku, di Jepang antara 10 hingga 15 buku. Di Asia berkisar 1 hingga 3 buku. Sementara di Indonesia hanya mampu 0 sampai 1 buku setiap tahunnya.
Kondisi rendahnya minat baca nasional tidak jauh berbeda dengan di daerah. Di Kota Makassar budaya baca masyarakat masih berada di nilai 28,34 % berdasarkan laporan lembaga survei Tri Tunggal Sejaya tahun 2015.

Kondisi perpustakaan di Indonesia ternyata sebanding lurus dengan kondisi minat bacanya. Masyarakat mungkin masih enggan berkunjung ke perpustakaan karena fasilitasnya kurang memadahi atau sarana perpustakaannya belum tersedia. Inilah yang perlu menjadi perhatian kita semua karena disatu sisi kita ingin meningkatkan minat baca tetapi disisi lain pemerintah masih disibukkan dengan memfasilitasi kebutuhan-kebutuhan lainnya dibandingkan memfasilitasi perpustakaan yang bernilai investasi untuk generasi yang akan datang.
Tengok perpustakaan negara tetangga seperti Singapura yang memiliki perpustakaan megah 15 lantai dengan fasilitas lengkap layaknya sebuah mal untuk ukuran luas wilayah negara kecil dan tentunya semua negara maju memiliki perpustakaan yang representatif.
Perpustakaan seyogyanya menjadi kebutuhan dasar sebagai sumber belajar dan kecerdasan masyarakat yang harus menjadi perhatian pemerintah karena sebenarnya membangun perpustakaan sama dengan membangun peradaban masa depan.
Tragedi nol buku dan kondisi darurat di berbagai sektor yang menimba bangsa kita saat ini jika diamati seperti fenomena gunung es. Masalah yang paling krusial dan paling mendasar adalah semua masyarakatnya kurang membaca. Tapi apakah mau mengakui kalau kita malas membaca?

Padahal sudah digariskan bahwa membaca merupakan unsur terpenting dalam kehidupan, karena itulah wahyu pertama yang diturunkan Allah kepada Rasulullah SAW adalah perintah membaca, “Bacalah”. Setiap orang yang cerdas dan berbudaya pasti menyadari adanya korelasi yang erat antara minat baca masyarakat dengan kecerdasan suatu bangsa.
Olehnya itu, kita harus menyadari bahwa segala sesuatunya harus dimulai dari membaca termasuk untuk membangun negeri yang majemuk ini dan tentunya peran perpustakaan sebagai salah satu sarana mudah dan murah bagi rakyat untuk membangun budaya baca yang sangat perlu mendapat perhatian lebih dan serius dari pemerintah. Selamat hari Kunjung Perpustakaan dan bulan Gemar Membaca. (*)

Oleh;
Tulus Wulan Juni
Pustakawan Madya di Perpustakaan Kota Makassar.                                                                                                                       Sumber :makasar.tribunnews.com