Krisis Minat Baca, Indonesia Dalam Masalah

Saat ini, minat baca anak Indonesia sudah sangat memprihatinkan. Jika merujuk data yang pernah dikeluarkan Badan Pusat Statisitik (BPS) pada tahun 2012 dijelaskan bahwa sebanyak 91,68 persen penduduk yang berusia 10 tahun ke atas lebih menyukai menonton televisi, dan hanya sekitar 17,66 persen yang menyukai membaca dari berbagai sumber seperti surat kabar, buku atau majalah. Berdasarkan data United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO) atau Organisasi Pendidikan Ilmiah dan Kebudayaan PBB, pada 2012, indeks minat membaca masyarakat Indonesia baru mencapai angka 0,001. Artinya, dari setiap 1.000 orang Indonesia hanya ada 1 orang saja yang punya minat baca.

Bukan hanya itu, dibeberapa negara maju dalam rangka mengembangkan minat baca generasi mudanya sebelum menamatkan pendidikan sekolahnya diberi kewajiban unstuck membaca buku dan menamatkannaya dalam jumlah tertentu. Jerman misalnya mewajibkan siswanya untuk manamatkan membaca buku hingga 22-23 buku. Dalam lingkup kawasan ASEAN Indonesia merupakan Negara yang belum mewajibkan siswanya untuk menamatkan beberapa buku sebagai bukti telah lulus sekolah. Berbeda dengan Negara Malaysia dan Singapura yang telah menerapkan dan mewajibkan siswanya yang ingin lulus sekolah untuk menamatkan sebanyak enam buah buku. Hal inipun masih terjadi sampai dengan sekarang ini.

Di luar data minat baca UNISCO tersebut United Nations Development Proggrame (UNDP) atau Badan Program Pembangunan PBB, merilis bahwa angka melek huruf orang dewasa di Indonesia hanya 65,5 persen, jauh bila dibanding dengan negara tetangga Malaysia 86,4 persen. Berdasarkan hasil penelitian yang sama indeks pembangunan manusia (IPM) Indonesia berada pada posisi 121 dari 187 negara di dunia. Indeks pembangunan manusia sendiri adalah pengukuran perbandingan dari harapan hidup, melek huruf, pendidikan dan standar hidup untuk semua negara di seluruh dunia. Sesuai dengan rangking tersebut maka terlihat semakin jauh pula ketertinggalan kualitas dan kompetisi masyarakat Indonesia jika dibandingkan dari berbagai negara yang ada di dunia. Bahkan kepala Perpustakaan Nasional, Sri Sularsi dalam suatu pernyataan persnya ketika berkunjung di Banjarmasin Oktober 2013 lalu pernah mengatakan bahwa Rakyat Indonesia pada saat sekarang memang kurang gemar dalam.

Fakta diatas tentu sangat memprihatinkan dan perlu untuk ditidak lanjuti, mengingat budaya membaca sangat erat kaitannya dengan kesinambungan sebuah generasi yang selanjutnya unstuck mengembangkan dan membawa Negara ini dimasa yang akan datang. Jika generasi sekarang memiliki minat baca rendah, bagaimana mungkin akan mengharapkan generasi mendatang untuk menjadi teladan bagi anak cucu jika membudayakan membaca saja tak bisa, apalagi sampai mengharapkan untuk bisa menjadi Bangsa yang berkualitas. Tentu hal ini perlu kita benahi dan sikapi bersama.

Padahal Negara Indonesia sebenarnya mampu untuk menyediakan buku atau bahan bacaan ke berbagai pelosok negeri ini. Nyatanya, Indonesia memiliki banyak penerbit, penulis, ilmuan, peneliti, dan toko-toko buku. Tetapi,kenyataannya bahwa tetap saja masyarakat kita menganggap buku sebagai benda mahal dan tidak penting untuk dibaca. Masyarakat kita, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, sampe orang tua masih enggan untuk membaca apalagi menulis. Kebiasaan membaca tampaknya memang belum dapat dijadikan sebagai kebiasaan di Indonesia, hal ini dapat dilihat dari kebiasaan dan aktifitas yang kita lakukan sehari-hari. Kebanyakan kita lebih mengutamakan hal-hal yang tidak bermanfaat lainnya dibandingkan denngan membaca misalnya seperti menonton televisi ataupun bermain.

Melihat sekarang sudah 68 tahun Indonesia merdeka dan semakin banyak masyarakat yang bisa menikmati pendidikan, seharusnya tingkat minat baca masyarakat Indonesia bisa bertambah baik, namun hal ini sangat berbanding terbalik dengan kenyataan yang kita alami sekarang. Kita bahkan dikenal sebagai bangsa yang rendah sekali minat bacanya, padahal minat baca ini bisa menjadi tolak ukur tingkat kemajuan pendidikan dan kualitas suatu bangsa. Tentunya ini menjadi permasalahan yang kompleks dan perlu mendapat perhatian khusus dari pemerintah dalam meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia. Seharusnya kita dapat mengevaluasi diri dari tahun-tahun sebelumnya. Malaysia yang dulunya belajar dari bangsa Indonesia kini berbanding terbalik. Tingkat pendidikan Negara Malaysia jauh lebih baik dibanding Negara kita. Tentunya kita tidak mau dianggap sebagai negara yang bodoh dan berpendidikan rendah.

Sebagai Negara yang telah lama merdeka dan ingin bisa menjadi bangsa yang unggul, maka sudah seharusnya kita lebih mengembangkan diri untuk lebih meningkatkan minat baca kita.
Semua pihak harus turut serta dalam upaya ini, baik itu pemerintah ataupun masyarakat. Banyak cara-cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan minat baca miasalnya seperti pembangunan perpustakaan ataupun taman bacaan dilingkungan masyarakat. Tak hanya pemerintah, masyarakat juga memilki peranan penting terhadap minat baca ini. Sudah saatnyalah masyarakat kita bertransformasi menjadi masyarakat yang gemar membaca seperti masyarakat di negara maju yang telah memiliki motivasi untuk membaca. Sehingga dengan demikian cita-cita kita untuk menjadi bangsa yang unggul dan bermartabat tidak hanya sekedar omongan dan orasi belaka.
Selengkapnya :
http://www.kompasiana.com/andimadyaputra/