• Konser Indonesia

    Konser Indonesia 80’s

    Gerakan ANAK INDONESIA SUKA BACA menghimbau kepada artis, politisi, pengusaha dan masyarakat umum ikut peduli dan ikut donasi buku untuk anak tidak mampu.

  • Penyerahan Buku

    Penyerahan Buku Ke 10 SD dan TB

    MI Shirotul Athfal I Bekasi

    MI Shirotul Rahman Cengkareng

    SDN Bojong Kulur 03 Bekasi

    SDN Kembangan Utara 09 Pagi

    dll

  • Teamwork

    Teamwork

    Indika Energy, MBSS

    bersama

    Gerakan AISB

    Peduli Minat Baca Anak Indonesia

  • Indonesia Book Fair

    Indonesia Book Fair

    Jago Baca Cilik dan seminar

  • Pesta Buku 2010

    Pesta Buku 2010

  • Donasi Buku

    Donasi

    Donasikan buku anda bagi anak-anak yang kurang mampu

Asal usul dan Sejarah Buku

Buku adalah salah satu karya sastra dan karya ilmu pengetahuan dalam peradaban dan kebudayaan manusia. Buku adalah kumpulan kertas  atau bahan lainnya yang dijilid menjadi satu pada salah satu ujungnya dan berisi tulisan dan gambaran dari ide, imajinasi dan pikiran seseorang. Setiap sisi dari sebuah lembaran kertas pada buku disebut sebuah halaman. Seiring dengan perkembangan dalam bidang dunia informatika, kini dikenal pula istilah e-book atau buku-e (buku elektronik), yang mengandalkan komputer dan internet . Sejarah perkembangan buku dari era kuno hingga jaman modern ini sangat panjang sepanjang peradaban yang diciptakan manusia.
Asal usul dan Sejarah
Ada berbagai sumber yang menguak sejarah tentang buku. Buku pertama disebutkan lahir di Mesir pada tahun 2400-an SM setelah orang Mesir menciptakan kertas papirus . Kertas papirus yang berisi tulisan ini digulung dan gulungan tersebut merupakan bentuk buku yang pertama. Ada pula yang mengatakan buku sudah ada sejak zaman Sang Budha di Kamboja karena pada saat itu Sang Budha menuliskan wahyunya di atas daun dan kemudian membacanya berulang-ulang. Berabad-abad kemudian di Cina, para cendekiawan menuliskan ilmu-ilmunya di atas lidi yang diikatkan menjadi satu. Hal tersebut mempengaruhi sistem penulisan di Cina di mana huruf-huruf Cina dituliskan secara vertikal yaitu dari atas ke bawah.
Buku yang terbuat dari kertas baru ada setelah Cina berhasil menciptakan kertas pada tahun 200-an SM dari bahan dasar bambu di ditemukan oleh Tsai Lun. Kertas membawa banyak perubahan pada dunia. Pedagang muslim membawa teknologi penciptaan kertas dari Cina ke Eropa pada awal abad 11 Masehi. Disinilah industri kertas bertambah maju. Apalagi dengan diciptakannya mesin cetak oleh Gutenberg perkambangan dan penyebaran buku mengalami revolusi. Kertas yang ringan dan dapat bertahan lama dikumpulkan menjadi satu dan terciptalah buku. Pecinta buku biasanya dijuluki sebagai seorang bibliofil atau kutu buku.Terrdapat karya hebat para penulis yang dapat dianggap sebagai buku terbaik sepanjang masa peradaban manusia
Pada zaman kuno, tradisi komunikasi masih mengandalkan lisan. Penyampaian informasi, cerita-cerita, nyanyian, do’a-do’a, maupun syair, disampaikan secara lisan dari mulut ke mulut. Karenanya, hafalan merupakan ciri yang menandai tradisi ini. Semuanya dihafal. Kian hari, kian banyak saja hal-hal yang musti dihafal. Saking banyaknya, sehingga akhirnya mereka kuwalahan alias tidak mampu menghafalkannya lagi. Hingga, terpikirlah untuk menuangkannya dalam tulisan. Maka, lahirlah apa yang disebut sebagai buku kuno.
Buku kuno ketika itu, belum berupa tulisan yang tercetak di atas kertas modern seperti sekarang ini, melainkan tulisan-tulisan di atas keping-keping batu (prasasti) atau juga di atas kertas yang terbuat dari daun papyrus. Papyrus adalah tumbuhan sejenis alang-alang yang banyak tumbuh di tepi Sungai Nil
Mesir merupakan bangsa yang pertama mengenal tulisan yang disebut hieroglif. Tulisan hieroglif yang diperkenalkan bangsa Mesir Kuno bentuk hurufnya berupa gambar-gambar. Mereka menuliskannya di batu-batu atau pun di kertas papyrus. Kertas papyrus bertulisan dan berbentuk gulungan ini yang disebut sebagi bentuk awal buku atau buku kuno.
Selain Mesir, bangsa Romawi juga memanfaatkan papyrus untuk membuat tulisan. Panjang gulungan papyrus itu kadang-kadang mencapai puluhan meter. Hal ini sungguh merepotkan orang yang menulis maupun yang membacanya. Karena itu, gulungan papyrus ada yang dipotong-potong. Papyrus terpanjang terdapat di British Museum di London yang mencapai 40,5 meter.
Kesulitan menggunakan gulungan papyrus, di kemudian hari mengantarkan perkembangan bentuk buku mengalami perubahan. Perubahan itu selaras dengan fitrah manusia yang menginginkan kemudahan. Dengan akalnya, manusia terus berpikir untuk mengadakan peningkatan dalam peradaban kehidupannya. Maka, pada awal abad pertengahan, gulungan papyrus digantikan oleh lembaran kulit domba terlipat yang dilindungi oleh kulit kayu yang keras yang dinamakan codex.
Perkembangan selanjutnya, orang-orang Timur Tengah menggunakan kulit domba yang disamak dan dibentangkan. Lembar ini disebut pergamenum yang kemudian disebut perkamen, artinya kertas kulit. Perkamen lebih kuat dan lebih mudah dipotong dan dibuat berlipat-lipat sehingga lebih mudah digunakan. Inilah bentuk awal dari buku yang berjilid.
Di Cina dan Jepang, perubahan bentuk buku gulungan menjadi buku berlipat yang diapit sampul berlangsung lebih cepat dan lebih sederhana. Bentuknya seperti lipatan-lipatan kain korden.Buku-buku kuno itu semuanya ditulis tangan. Awalnya yang banyak diterbitkan adalah kitab suci, seperti Al-Qur’an yang dibuat dengan ditulis tangan.
Penemuan Ts’ai Lun telah mengantarkan bangsa Cina mengalami kemajuan. Sehingga, pada abad kedua, Cina menjadi pengekspor kertas satu-satunya di dunia.  Sebagai tindak lanjut penemuan kertas, penemuan mesin cetak pertama kali merupakan tahap perkembangan selanjutnya yang signifikan dari dunia perbukuan.
Penemu mesin cetak itu berkebangsaan Jerman bernama Johanes Gensleich Zur Laden Zum Gutenberg. Gutenberg telah berhasil mengatasi kesulitan pembuatan buku yang dibuat dengan ditulis tangan. Gutenberg menemukan cara pencetakan buku dengan huruf-huruf logam yang terpisah. Huruf-huruf itu bisa dibentuk menjadi kata atau kalimat. Selain itu, Gutenberg juga melengkapi ciptaannya dengan mesin cetak. Namun, tetap saja untuk menyelesaikan satu buah buku diperlukan waktu agak lama karena mesinnya kecil dan jumlah huruf yang digunakan terbatas. Kelebihannya, mesin Gutenberg mampu menggandakan cetakan dengan cepat dan jumlah yang banyak.  Gutenberg memulai pembuatan mesin cetak pada abad ke-15. Teknik cetak yang ditemukan Gutenberg bertahan hingga abad ke-20 sebelum akhirnya ditemukan teknik cetak yang lebih sempurna, yakni pencetakan offset, yang ditemukan pada pertengahan abad ke-20.
Di Indonesia sendiri, pada zaman dahulu, juga dikenal dengan buku kuno. Buku kuno itu ditulis di atas daun lontar. Daun lontar yang sudah ditulisi itu lalu dijilid hingga membentuk sebuah buku. Perkembangan perbukuan mengalami perubahan signifikan dengan diciptakannya kertas yang sampai sekarang masih digunakan sebagai bahan baku penerbitan buku. Pencipta kertas yang memicu lahirnya era baru dunia perbukuan itu bernama Ts’ai Lun. Ts’ai Lun berkebangsaan Cina. Hidup sekitar tahun 105 Masehi pada zaman Kekaisaran Ho Ti di daratan Cina.


Read more

ULANG TAHUN GERAI KACA










Read more

5 Fakta Mengejutkan Hari Buku Sedunia

Ilustrasi membaca buku.23 April 2018, diperingati sebagai Hari Buku Sedunia. Dikenal pula dengan Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia dan Hari Buku Internasional, merupakan hari perayaan tahunan yang jatuh pada tanggal 23 April yang diadakan oleh UNESCO untuk mempromosikan peran membaca, penerbitan, dan hak cipta.
Sebagai momen yang selalu diperingati tiap tahun, ternyata momen ini punya sejarah unik. Berikut fakta-fakta unik di balik peringatan Hari Buku Sedunia dikutip dari berbagai sumber.

Kenapa 23 April
Hubungan antara 23 April dengan buku pertama sekali dibuat oleh toko buku di Catalonia, Spanyol, pada tahun 1923. Ide awalnya berasal dari penulis Valencia, Vicente Clavel Andrés sebagai cara untuk menghargai penulis Miguel de Cervantes yang meninggal pada tanggal tersebut.


Hari Kematian Penulis Terkenal
Pada tahun 1995, UNESCO memutuskan Hari Buku Sedunia dan Hari Hak Cipta Sedunia dirayakan pada tanggal 23 April. Sebab, tanggal tersebut juga merupakan hari kematian William Shakespeare dan Inca Garcilaso de la Vega, serta hari lahir atau kematian beberapa penulis terkenal lain.

Awal Mula
Hubungan antara 23 April dan buku bermula dari acara perayaan La Diada de Sant Jordi alias Sant Jordi di Catalunya, Spanyol. Pada 23 April 1923, para pedagang buku di Catalunya mengadakan acara festival buku pada momen perayaan tahunan masyarakat Catalan tersebut.
Sebelum 1923, festival yang diadakan untuk memperingati hari kematian Saint George, santo pelindung dari Catalunya, pada 23 April tahun 303 itu hanya identik dengan pemberian mawar merah kepada teman-teman, anggota keluarga dan pasangan. Namun sejak 1923 Sant Jordi juga dikenal identik dengan pemberian buku dan kegiatan-kegiatan lain yang berkaitan dengan buku.
Sorot Buku - Membaca Buku - Perpustakaan - kios buku
Diperingati di Indonesia
Indonesia pertama kali memperingatinya pada tahun 2006 dengan prakarsa Forum Indonesia Membaca yang didukung oleh berbagai pihak, yakni pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas dan masyarakat umum.

Minat Baca Indonesia
Bukan hanya sekadar diperingati, Hari Buku Sedunia juga ikut mendorong masyarakat di Indonesia untuk giat membaca. Sebab, fakta yang terjadi minat baca orang Indonesia masih rendah.
Hasil survei UNESCO pada 2011 menunjukkan, indeks tingkat membaca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen. Artinya, hanya ada satu orang dari 1.000 penduduk yang masih 'mau' membaca buku secara serius.
Bahkan, Most Literate Nations in the World pada Maret 2016 merilis pemeringkatan literasi internasional yang menempatkan Indonesia berada di urutan ke-60 di antara total 61 negara. Sedangkan pada World Education Forum yang berada di bawah naungan PBB, Indonesia menempati posisi ke-69 dari 76 negara. (ase)

viva.co.id


Read more

Pemanfaatan "Gadget" dalam Program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) Kemdikbud di Sekolah Dasar

Memanfaatkan gadget dalam Gerakan Literasi Sekolah yang digagas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia merupakan keniscayaan, mengingat gadget sudah sangat akrab di kalangan anak Sekolah Dasar terutama di kota-kota besar. Sepuluh atau duapuluh tahun yang akan datang, bukan tidak mungkin gadget akan menjadi kebutuhan yang lazim bagi anak-anak Sekolah Dasar hingga ke pelosok desa.
Menurut data tahun 2014 yang dilansir dari sini setidaknya 30 juta anak-anak dan remaja di Indonesia merupakan pengguna internet, dan media digital saat ini menjadi pilihan utama saluran komunikasi yang mereka gunakan. Sedangkan dari penelitian yang dilakukan Central Connecticut State University pada bulan Maret 2016 lalu terkait "World Most Literate Nations" menyatakan bahwa Indonesia menempati peringkat 60 dalam hal kebiasaan membaca masyarakat di dunia. Dari dua data ini, perlu kiranya membuat suatu terobosan bagaimana memanfaatkan gadget, yang merupakan realita kehidupan era digital sebagai media yang mampu meningkatkan minat baca bagi anak-anak generasi masa depan yang terintegrasi dalam program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) Kemdikbud.
Oleh karena itu, tulisan ini akan mengupas problematika dan solusi terkait pemanfaatan gadget sebagai ruang baca baru untuk anak-anak Sekolah Dasar. Ada tiga hal pokok yang menjadi pembahasan artikel ini yaitu; pertama, pentingnya kreatifitas guru dalam pemanfaatan gadget; kedua, membuat daftar laman web bacaan yang ramah bagi anak; dan ketiga, memanfaatkan media sosial untuk tugas membaca. Penulis melihat, sudah saatnya kita segera berinovasi dengan gegas mengingat realita perkembangan teknologi informasi yang sedemikian pesatnya. Gadget haruslah diracik sebagai kawan bagi anak kita, bukan lawan mereka.
Pengguna internet di kalangan anak sekolah dasar menunjukkan angka yang cukup besar. Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Internet Indonesia tahun 2016, sebanyak 768 ribu pengguna internet adalah anak usia 10-14 tahun. Umumnya mereka mengakses internet selain untuk mengerjakan tugas sekolah juga untuk kesenangan pribadi, seperti menonton youtube, bermain game online, atau bergaul di media sosial, dan kebanyakan mengaksesnya lewat gadget.
Meskipun banyak penelitian yang menyatakan pengaruh buruk gadget terhadap anak, namun gadget adalah realita teknologi yang tidak bisa dipungkiri. Kita tidak bisa melarang anak menggunakan gadget, karena mereka tumbuh di era digital, di tengah serbuan teknologi yang berkembang pesat. Yang seharusnya dilakukan adalah bagaimana memanfaatkan gadget untuk menunjang kegiatan belajar mengajar di sekolah, khususnya terkait program Gerakan Literasi Sekolah Kemdikbud. Guru diharapkan mampu berinovasi dalam memanfaatkan gadget di lingkungan sekolahnya, kaitannya dengan menumbuhkan minat baca anak didiknya.
Minimnya akses buku-buku bermutu menjadi salah satu faktor rendahnya minat baca di sekolah dasar. Bisa jadi karena harganya yang mahal, atau keberadaan buku bermutu itu sendiri yang memang langka. Buku bermutu yang penulis maksud disini adalah buku-buku yang memang khusus untuk anak sesuai usianya, dimana anak akan lebih tertarik membaca buku bergambar dengan warna warna yang mencolok, serta ketebalan yang lebih terjangkau anak sekolah dasar.
Buku yang ada di perpustakaan sekolah kebanyakan adalah buku pelajaran, buku paket, dan buku-buku terbitan lawas yang cenderung membosankan. Jarang ada majalah anak, buku cerita bergambar atau komik yang biasanya disukai anak. Kita cenderung menganggap itu semua sebagai bacaan yang tidak mendidik. Padahal majalah atau komik bisa memancing minat baca anak.
Namun di era yang serba digital ini, kemudahan dan kepraktisan menjadi alasan orang lebih memilih buku digital daripada buku cetak. Selain itu jauh lebih ekonomis mengunduh atau mengakses buku digital daripada membeli buku "sungguhan" yang harganya lebih mahal. Kita hanya perlu modal gadget dan koneksi internet. Kecenderungan ini seharusnya dimanfaatkan oleh guru untuk lebih mengoptimalkan penggunaan gadget di lingkungan sekolahnya untuk menumbuhkan minat baca siswanya.
Ada beberapa laman web yang berisi bacaan-bacaan bagus untuk anak yang berhasil penulis kumpulkan. Ada  bobo grid, yang merupakan versi digital dari majalah bobo, salah satu majalah anak-anak paling hits era 90-an, dan satu-satunya majalah anak yang masih eksis sampai sekarang. Ada pula cerita kecil yang berisi kumpulan cerita dan kumpulan dongeng untuk anak-anak, serta artikel tentang ilmu pengetahuan umum. Ada majalah anak islami digital Diaries Kidz yang dijual di aplikasi Scoop. Ada kata baca yang berisi ebook untuk anak yang cukup bermutu. Ada lagi ebook anak . Memang jumlah tersebut masih sangat sedikit, namun jika program membaca melalui gadget ini sukses dilaksanakan, penulis yakin akan banyak laman-laman web membaca baru yang bermunculan dengan konten yang lebih baik.
Pemerintah sendiri melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebenarnya sudah menerbitkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Salah satu hal pokok yang tertuang dalam peraturan tersebut yaitu kewajiban membaca buku nonteks pelajaran selama 15 menit sebelum jam pembelajaran dimulai setiap hari di sekolah. Berdasarkan amanat itu, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Ditjen Dikdasmen) meluncurkan program Gerakan Literasi Sekolah (GLS).
Namun dalam prakteknya banyak sekolah yang mengganti 15 menit tersebut dengan membaca Qur'an, mengulang hafalan Qur'an, atau bahkan tidak melaksanakan program tersebut. Alasannya cukup beragam, mulai dari sekolah tidak mempunyai perpustakaan yang memadai, sampai respon siswa yang kurang baik ditambah guru yang kurang luwes dalam memandu pelaksanaan program membaca 15 menit, sehingga tujuannya kurang tercapai. Padahal jika dilaksanakan dengan betul-betul, program membaca 15 menit membawa manfaat yang cukup besar dalam menumbuhkan minat baca siswa. Seperti yang dituturkan Wijaya, seorang guru di SMPN Satap 4 Cileles Banten, yang menceritakan pengalamannya di blog pribadinya, program tersebut membawa manfaat yang besar di lingkungan sekolahnya. Terbukti ada siswa dari yang tidak bisa membaca sama sekali sampai akhirnya kecanduan membaca buku.
Disini penulis menawarkan sebuah ide sederhana berangkat dari program GLS yang dicanangkan pemerintah. Bagaimana agar peraturan membaca buku non teks pelajaran selama 15 menit setiap hari tetap berjalan, namun juga siswa tetap menikmati membaca buku bahkan pada akhirnya akan keranjingan membaca, ditengah minimnya koleksi buku-buku anak di perpustakaan sekolah.
Diatas penulis sudah menyebutkan beberapa laman web yang bisa diakses guru maupun siswa. Guru bisa menugaskan siswa untuk membaca minimal 1 cerita tiap anak, setiap hari. Kemudian esoknya sebelum jam pelajaran dimulai, siswa diminta menceritakan kembali apa yang sudah dia baca dirumah. Cukup 15 menit setiap pagi untuk mendengarkan anak-anak bercerita dengan bahasa mereka sendiri.
Untuk sekolah dasar yang mayoritas siswanya membawa gadget, baik smartphone maupun tablet, bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk membaca buku digital 15 menit setiap hari melalui gadgetnya. Kemudian mereka diminta membuat kesimpulan dari hasil bacaannya dan mempostingnya di status facebook. Agar semakin terpacu, guru bisa mengadakan kompetisi "like". Status yang paling banyak mendapat like dari guru dan teman-temannya menjadi pemenang dan anak diberi reward, bisa berupa bintang prestasi atau hadiah buku bacaan.
Remaja tanggung usia kelas 5 atau 6 SD umumnya sudah mengenal instagram. Media sosial yang biasanya jadi ajang pamer foto ini bisa dimanfaatkan untuk wadah pamer hasil membaca buku anak-anak. Caranya bisa dengan memposting foto selfie bersama buku yang sudah selesai dibaca kemudian caption-nya berisi quote atau kata-kata yang paling menarik dari buku itu.
Media youtube juga bisa dimanfaatkan untuk mengajak anak-anak membaca buku. Sekolah bisa membuat channel youtube dan secara rutin mengunggah video kegiatan membaca buku nonteks pelajaran 15 menit setiap pagi, atau mengunggah video kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan literasi lainnya. Akan lebih baik lagi jika sekolah membuat video khusus promosi pentingnya membaca buku bagi generasi muda.
Masih banyak cara yang bisa dilakukan untuk mendekatkan anak dengan buku melalui gadget. Semua kembali pada kemauan guru dan pihak-pihak yang berwenang di sekolah. Jika membaca buku cetak mulai terasa membosankan, tidak ada salahnya membaca buku digital bukan?

Kesimpulan
Teknologi yang berkembang sangat pesat, khususnya di bidang telekomunikasi haruslah dimanfaatkan secara optimal, termasuk dalam dunia literasi. Anak-anak yang tumbuh di  era digital tidak bisa dipisahkan begitu saja dari gadget yang merupakan salah satu produk kemajuan zaman. Tugas kita sebagai orangtua dan guru adalah bagaimana meramu gadget agar bisa menjadi kawan yang baik bagi anak kita. Tidak sulit sebenarnya, hanya diperlukan sedikit inovasi agar program Gerakan Literasi Sekolah Kemdikbud bisa tetap berjalan dengan menyenangkan dan akhirnya membaca bisa menjadi budaya bangsa Indonesia.
https://www.kompasiana.com/.../pemanfaatan-gadget-dalam-program-gerakan-literas


Read more

Meningkatkan Kegemaran Baca Anak di Era Digital

Jakarta - Memang bukan terobosan baru di era digital ini dalam membuat platform dan aplikasi bacaan. Sebut saja Kindle dari Amazon yang berisi jutaan buku dengan berbagai bahasa dari seluruh dunia. Namun, Mayumi Haryoto dan Aisha Habir membuat gagasan yang menarik dengan merilis sebuah platform bacaan khusus anak yang berbahasa Indonesia.

"PiBo merupakan singkatan dari Picture Book. Dengan adanya platform buku bacaan anak berbahasa Indonesia, saya berharap PiBo bisa menjadi smart alternative bagi orang tua. Khususnya untuk mengarahkan anak-anaknya dalam memperoleh konten yang bersifat edukatif dari gadget y


Yang membedakan PiBo dengan online bookstore yang lain adalah PiBo memang spesifik untuk anak. Di bookstore lain masih ada buku dewasa, sedangkan bagian anak-anaknya lebih general. Padahal seharusnya buku anak bisa dipilah lagi karena bacaan umur 3 dan 8 tahun itu berbeda. Benar kan, Bun?

Selain itu, PiBo menyediakan buku dengan beragam tema dan sesuai dengan kelompok umur. Buku bacaannya juga memiliki harga yang terjangkau, bahkan ada yang gratis!

Ide ini berawal dari Mayumi pengamatannya di illustrator agency tempat ia bekerja dan industri yang berkembang di luar negeri. Menurutnya, industri kreatif di luar negeri, khususnya bagian ilustrasi, buku bacaan anak memang paling banyak minatnya.

"Ilustrasi di buku bacaan anak secara visual sangat menarik. Sehingga saya terpikir untuk membuat sebuah platform yang berisi buku bacaan anak dengan bahasa Indonesia. Selain itu ada fakta-fakta Indonesia memiliki minat baca yang cukup rendah membuat saya semakin terdorong," kata Mayumi.

Aisha selaku co founder PiBo menerangkan misi PiBo yakni untuk meningkatkan minat baca anak, memberikan akses yang lebih bagi anak-anak. Akses di sini maksudnya karena PiBo berbasis digital jadi bisa diakses di gadget mana pun. PiBo juga memuat kearifan lokal, nilai-nilai budaya Indonesia serta konteks yang relevan sesuai dengan umur anak. Kemudian, PiBo diharapkan dapat membangun ekosistem industri buku cerita anak serta bisa mempromosikan baca menjadi hal yang menyenangkan bagi anak.


"Memang sampai kapan pun nggak akan ada yang menggantikan pengalaman 'autentik' membaca buku cetak. Aplikasi ini memang nggak bertujuan untuk menggantikan tapi lebih untuk memberikan kemudahan bagi para orang tua yang ada di era digital. Dengan PiBo, anak bisa membaca buku di mana dan kapan saja," kata Aisha dalam kesempatan yang sama.

Mayumi dan Aisha memilih bahasa Indonesia sebagai bahasa yang mendominasi buku bacaan yang ada di PiBo karena mereka menyadari semakin berkembangnya zaman anak-anak nggak terlalu diajarkan dengan bahasa ibu yaitu bahasa Indonesia. Kosakata pun semakin sedikit. Untuk itu, buku bacaan anak di PiBo kebanyakan memakai bahasa Indonesia yang baik dan benar, Bun.

Mayumi menambahkan, bagi para penulis yang independen, namun belum menemukan ilustrator, PiBo bisa memfasilitasinya. Tapi, sebelum itu harus dikurasi terlebih dahulu cerita dari para penulis agar sesuai dengan visi dan misi PiBo.

Bagaimana Bun? Tertarik untuk membacakan buku untuk si kecil dari PiBo? Atau mau jadi penulis buku anak? (aci/vit)
sumber :https://www.haibunda.com

ang mereka gunakan. Mengingat zaman sekarang adalah gadget nggak mungkin bisa dipisahkan dengan kita. Video dan games adalah daya tarik utamanya," ujar Mayumi selaku founder PiBo di acara Peluncuran Platform dan Aplikasi PiBo, di Kopi Kalyan, Jakarta Selatan (20/9/2017).


Read more