• Konser Indonesia

    Konser Indonesia 80’s

    Gerakan ANAK INDONESIA SUKA BACA menghimbau kepada artis, politisi, pengusaha dan masyarakat umum ikut peduli dan ikut donasi buku untuk anak tidak mampu.

  • Penyerahan Buku

    Penyerahan Buku Ke 10 SD dan TB

    MI Shirotul Athfal I Bekasi

    MI Shirotul Rahman Cengkareng

    SDN Bojong Kulur 03 Bekasi

    SDN Kembangan Utara 09 Pagi

    dll

  • Teamwork

    Teamwork

    Indika Energy, MBSS

    bersama

    Gerakan AISB

    Peduli Minat Baca Anak Indonesia

  • Indonesia Book Fair

    Indonesia Book Fair

    Jago Baca Cilik dan seminar

  • Pesta Buku 2010

    Pesta Buku 2010

  • Donasi Buku

    Donasi

    Donasikan buku anda bagi anak-anak yang kurang mampu

ULANG TAHUN GERAI KACA










Read more

5 Fakta Mengejutkan Hari Buku Sedunia

Ilustrasi membaca buku.23 April 2018, diperingati sebagai Hari Buku Sedunia. Dikenal pula dengan Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia dan Hari Buku Internasional, merupakan hari perayaan tahunan yang jatuh pada tanggal 23 April yang diadakan oleh UNESCO untuk mempromosikan peran membaca, penerbitan, dan hak cipta.
Sebagai momen yang selalu diperingati tiap tahun, ternyata momen ini punya sejarah unik. Berikut fakta-fakta unik di balik peringatan Hari Buku Sedunia dikutip dari berbagai sumber.

Kenapa 23 April
Hubungan antara 23 April dengan buku pertama sekali dibuat oleh toko buku di Catalonia, Spanyol, pada tahun 1923. Ide awalnya berasal dari penulis Valencia, Vicente Clavel Andrés sebagai cara untuk menghargai penulis Miguel de Cervantes yang meninggal pada tanggal tersebut.


Hari Kematian Penulis Terkenal
Pada tahun 1995, UNESCO memutuskan Hari Buku Sedunia dan Hari Hak Cipta Sedunia dirayakan pada tanggal 23 April. Sebab, tanggal tersebut juga merupakan hari kematian William Shakespeare dan Inca Garcilaso de la Vega, serta hari lahir atau kematian beberapa penulis terkenal lain.

Awal Mula
Hubungan antara 23 April dan buku bermula dari acara perayaan La Diada de Sant Jordi alias Sant Jordi di Catalunya, Spanyol. Pada 23 April 1923, para pedagang buku di Catalunya mengadakan acara festival buku pada momen perayaan tahunan masyarakat Catalan tersebut.
Sebelum 1923, festival yang diadakan untuk memperingati hari kematian Saint George, santo pelindung dari Catalunya, pada 23 April tahun 303 itu hanya identik dengan pemberian mawar merah kepada teman-teman, anggota keluarga dan pasangan. Namun sejak 1923 Sant Jordi juga dikenal identik dengan pemberian buku dan kegiatan-kegiatan lain yang berkaitan dengan buku.
Sorot Buku - Membaca Buku - Perpustakaan - kios buku
Diperingati di Indonesia
Indonesia pertama kali memperingatinya pada tahun 2006 dengan prakarsa Forum Indonesia Membaca yang didukung oleh berbagai pihak, yakni pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas dan masyarakat umum.

Minat Baca Indonesia
Bukan hanya sekadar diperingati, Hari Buku Sedunia juga ikut mendorong masyarakat di Indonesia untuk giat membaca. Sebab, fakta yang terjadi minat baca orang Indonesia masih rendah.
Hasil survei UNESCO pada 2011 menunjukkan, indeks tingkat membaca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen. Artinya, hanya ada satu orang dari 1.000 penduduk yang masih 'mau' membaca buku secara serius.
Bahkan, Most Literate Nations in the World pada Maret 2016 merilis pemeringkatan literasi internasional yang menempatkan Indonesia berada di urutan ke-60 di antara total 61 negara. Sedangkan pada World Education Forum yang berada di bawah naungan PBB, Indonesia menempati posisi ke-69 dari 76 negara. (ase)

viva.co.id


Read more

Pemanfaatan "Gadget" dalam Program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) Kemdikbud di Sekolah Dasar

Memanfaatkan gadget dalam Gerakan Literasi Sekolah yang digagas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia merupakan keniscayaan, mengingat gadget sudah sangat akrab di kalangan anak Sekolah Dasar terutama di kota-kota besar. Sepuluh atau duapuluh tahun yang akan datang, bukan tidak mungkin gadget akan menjadi kebutuhan yang lazim bagi anak-anak Sekolah Dasar hingga ke pelosok desa.
Menurut data tahun 2014 yang dilansir dari sini setidaknya 30 juta anak-anak dan remaja di Indonesia merupakan pengguna internet, dan media digital saat ini menjadi pilihan utama saluran komunikasi yang mereka gunakan. Sedangkan dari penelitian yang dilakukan Central Connecticut State University pada bulan Maret 2016 lalu terkait "World Most Literate Nations" menyatakan bahwa Indonesia menempati peringkat 60 dalam hal kebiasaan membaca masyarakat di dunia. Dari dua data ini, perlu kiranya membuat suatu terobosan bagaimana memanfaatkan gadget, yang merupakan realita kehidupan era digital sebagai media yang mampu meningkatkan minat baca bagi anak-anak generasi masa depan yang terintegrasi dalam program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) Kemdikbud.
Oleh karena itu, tulisan ini akan mengupas problematika dan solusi terkait pemanfaatan gadget sebagai ruang baca baru untuk anak-anak Sekolah Dasar. Ada tiga hal pokok yang menjadi pembahasan artikel ini yaitu; pertama, pentingnya kreatifitas guru dalam pemanfaatan gadget; kedua, membuat daftar laman web bacaan yang ramah bagi anak; dan ketiga, memanfaatkan media sosial untuk tugas membaca. Penulis melihat, sudah saatnya kita segera berinovasi dengan gegas mengingat realita perkembangan teknologi informasi yang sedemikian pesatnya. Gadget haruslah diracik sebagai kawan bagi anak kita, bukan lawan mereka.
Pengguna internet di kalangan anak sekolah dasar menunjukkan angka yang cukup besar. Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Internet Indonesia tahun 2016, sebanyak 768 ribu pengguna internet adalah anak usia 10-14 tahun. Umumnya mereka mengakses internet selain untuk mengerjakan tugas sekolah juga untuk kesenangan pribadi, seperti menonton youtube, bermain game online, atau bergaul di media sosial, dan kebanyakan mengaksesnya lewat gadget.
Meskipun banyak penelitian yang menyatakan pengaruh buruk gadget terhadap anak, namun gadget adalah realita teknologi yang tidak bisa dipungkiri. Kita tidak bisa melarang anak menggunakan gadget, karena mereka tumbuh di era digital, di tengah serbuan teknologi yang berkembang pesat. Yang seharusnya dilakukan adalah bagaimana memanfaatkan gadget untuk menunjang kegiatan belajar mengajar di sekolah, khususnya terkait program Gerakan Literasi Sekolah Kemdikbud. Guru diharapkan mampu berinovasi dalam memanfaatkan gadget di lingkungan sekolahnya, kaitannya dengan menumbuhkan minat baca anak didiknya.
Minimnya akses buku-buku bermutu menjadi salah satu faktor rendahnya minat baca di sekolah dasar. Bisa jadi karena harganya yang mahal, atau keberadaan buku bermutu itu sendiri yang memang langka. Buku bermutu yang penulis maksud disini adalah buku-buku yang memang khusus untuk anak sesuai usianya, dimana anak akan lebih tertarik membaca buku bergambar dengan warna warna yang mencolok, serta ketebalan yang lebih terjangkau anak sekolah dasar.
Buku yang ada di perpustakaan sekolah kebanyakan adalah buku pelajaran, buku paket, dan buku-buku terbitan lawas yang cenderung membosankan. Jarang ada majalah anak, buku cerita bergambar atau komik yang biasanya disukai anak. Kita cenderung menganggap itu semua sebagai bacaan yang tidak mendidik. Padahal majalah atau komik bisa memancing minat baca anak.
Namun di era yang serba digital ini, kemudahan dan kepraktisan menjadi alasan orang lebih memilih buku digital daripada buku cetak. Selain itu jauh lebih ekonomis mengunduh atau mengakses buku digital daripada membeli buku "sungguhan" yang harganya lebih mahal. Kita hanya perlu modal gadget dan koneksi internet. Kecenderungan ini seharusnya dimanfaatkan oleh guru untuk lebih mengoptimalkan penggunaan gadget di lingkungan sekolahnya untuk menumbuhkan minat baca siswanya.
Ada beberapa laman web yang berisi bacaan-bacaan bagus untuk anak yang berhasil penulis kumpulkan. Ada  bobo grid, yang merupakan versi digital dari majalah bobo, salah satu majalah anak-anak paling hits era 90-an, dan satu-satunya majalah anak yang masih eksis sampai sekarang. Ada pula cerita kecil yang berisi kumpulan cerita dan kumpulan dongeng untuk anak-anak, serta artikel tentang ilmu pengetahuan umum. Ada majalah anak islami digital Diaries Kidz yang dijual di aplikasi Scoop. Ada kata baca yang berisi ebook untuk anak yang cukup bermutu. Ada lagi ebook anak . Memang jumlah tersebut masih sangat sedikit, namun jika program membaca melalui gadget ini sukses dilaksanakan, penulis yakin akan banyak laman-laman web membaca baru yang bermunculan dengan konten yang lebih baik.
Pemerintah sendiri melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebenarnya sudah menerbitkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Salah satu hal pokok yang tertuang dalam peraturan tersebut yaitu kewajiban membaca buku nonteks pelajaran selama 15 menit sebelum jam pembelajaran dimulai setiap hari di sekolah. Berdasarkan amanat itu, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Ditjen Dikdasmen) meluncurkan program Gerakan Literasi Sekolah (GLS).
Namun dalam prakteknya banyak sekolah yang mengganti 15 menit tersebut dengan membaca Qur'an, mengulang hafalan Qur'an, atau bahkan tidak melaksanakan program tersebut. Alasannya cukup beragam, mulai dari sekolah tidak mempunyai perpustakaan yang memadai, sampai respon siswa yang kurang baik ditambah guru yang kurang luwes dalam memandu pelaksanaan program membaca 15 menit, sehingga tujuannya kurang tercapai. Padahal jika dilaksanakan dengan betul-betul, program membaca 15 menit membawa manfaat yang cukup besar dalam menumbuhkan minat baca siswa. Seperti yang dituturkan Wijaya, seorang guru di SMPN Satap 4 Cileles Banten, yang menceritakan pengalamannya di blog pribadinya, program tersebut membawa manfaat yang besar di lingkungan sekolahnya. Terbukti ada siswa dari yang tidak bisa membaca sama sekali sampai akhirnya kecanduan membaca buku.
Disini penulis menawarkan sebuah ide sederhana berangkat dari program GLS yang dicanangkan pemerintah. Bagaimana agar peraturan membaca buku non teks pelajaran selama 15 menit setiap hari tetap berjalan, namun juga siswa tetap menikmati membaca buku bahkan pada akhirnya akan keranjingan membaca, ditengah minimnya koleksi buku-buku anak di perpustakaan sekolah.
Diatas penulis sudah menyebutkan beberapa laman web yang bisa diakses guru maupun siswa. Guru bisa menugaskan siswa untuk membaca minimal 1 cerita tiap anak, setiap hari. Kemudian esoknya sebelum jam pelajaran dimulai, siswa diminta menceritakan kembali apa yang sudah dia baca dirumah. Cukup 15 menit setiap pagi untuk mendengarkan anak-anak bercerita dengan bahasa mereka sendiri.
Untuk sekolah dasar yang mayoritas siswanya membawa gadget, baik smartphone maupun tablet, bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk membaca buku digital 15 menit setiap hari melalui gadgetnya. Kemudian mereka diminta membuat kesimpulan dari hasil bacaannya dan mempostingnya di status facebook. Agar semakin terpacu, guru bisa mengadakan kompetisi "like". Status yang paling banyak mendapat like dari guru dan teman-temannya menjadi pemenang dan anak diberi reward, bisa berupa bintang prestasi atau hadiah buku bacaan.
Remaja tanggung usia kelas 5 atau 6 SD umumnya sudah mengenal instagram. Media sosial yang biasanya jadi ajang pamer foto ini bisa dimanfaatkan untuk wadah pamer hasil membaca buku anak-anak. Caranya bisa dengan memposting foto selfie bersama buku yang sudah selesai dibaca kemudian caption-nya berisi quote atau kata-kata yang paling menarik dari buku itu.
Media youtube juga bisa dimanfaatkan untuk mengajak anak-anak membaca buku. Sekolah bisa membuat channel youtube dan secara rutin mengunggah video kegiatan membaca buku nonteks pelajaran 15 menit setiap pagi, atau mengunggah video kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan literasi lainnya. Akan lebih baik lagi jika sekolah membuat video khusus promosi pentingnya membaca buku bagi generasi muda.
Masih banyak cara yang bisa dilakukan untuk mendekatkan anak dengan buku melalui gadget. Semua kembali pada kemauan guru dan pihak-pihak yang berwenang di sekolah. Jika membaca buku cetak mulai terasa membosankan, tidak ada salahnya membaca buku digital bukan?

Kesimpulan
Teknologi yang berkembang sangat pesat, khususnya di bidang telekomunikasi haruslah dimanfaatkan secara optimal, termasuk dalam dunia literasi. Anak-anak yang tumbuh di  era digital tidak bisa dipisahkan begitu saja dari gadget yang merupakan salah satu produk kemajuan zaman. Tugas kita sebagai orangtua dan guru adalah bagaimana meramu gadget agar bisa menjadi kawan yang baik bagi anak kita. Tidak sulit sebenarnya, hanya diperlukan sedikit inovasi agar program Gerakan Literasi Sekolah Kemdikbud bisa tetap berjalan dengan menyenangkan dan akhirnya membaca bisa menjadi budaya bangsa Indonesia.
https://www.kompasiana.com/.../pemanfaatan-gadget-dalam-program-gerakan-literas


Read more

Meningkatkan Kegemaran Baca Anak di Era Digital

Jakarta - Memang bukan terobosan baru di era digital ini dalam membuat platform dan aplikasi bacaan. Sebut saja Kindle dari Amazon yang berisi jutaan buku dengan berbagai bahasa dari seluruh dunia. Namun, Mayumi Haryoto dan Aisha Habir membuat gagasan yang menarik dengan merilis sebuah platform bacaan khusus anak yang berbahasa Indonesia.

"PiBo merupakan singkatan dari Picture Book. Dengan adanya platform buku bacaan anak berbahasa Indonesia, saya berharap PiBo bisa menjadi smart alternative bagi orang tua. Khususnya untuk mengarahkan anak-anaknya dalam memperoleh konten yang bersifat edukatif dari gadget y


Yang membedakan PiBo dengan online bookstore yang lain adalah PiBo memang spesifik untuk anak. Di bookstore lain masih ada buku dewasa, sedangkan bagian anak-anaknya lebih general. Padahal seharusnya buku anak bisa dipilah lagi karena bacaan umur 3 dan 8 tahun itu berbeda. Benar kan, Bun?

Selain itu, PiBo menyediakan buku dengan beragam tema dan sesuai dengan kelompok umur. Buku bacaannya juga memiliki harga yang terjangkau, bahkan ada yang gratis!

Ide ini berawal dari Mayumi pengamatannya di illustrator agency tempat ia bekerja dan industri yang berkembang di luar negeri. Menurutnya, industri kreatif di luar negeri, khususnya bagian ilustrasi, buku bacaan anak memang paling banyak minatnya.

"Ilustrasi di buku bacaan anak secara visual sangat menarik. Sehingga saya terpikir untuk membuat sebuah platform yang berisi buku bacaan anak dengan bahasa Indonesia. Selain itu ada fakta-fakta Indonesia memiliki minat baca yang cukup rendah membuat saya semakin terdorong," kata Mayumi.

Aisha selaku co founder PiBo menerangkan misi PiBo yakni untuk meningkatkan minat baca anak, memberikan akses yang lebih bagi anak-anak. Akses di sini maksudnya karena PiBo berbasis digital jadi bisa diakses di gadget mana pun. PiBo juga memuat kearifan lokal, nilai-nilai budaya Indonesia serta konteks yang relevan sesuai dengan umur anak. Kemudian, PiBo diharapkan dapat membangun ekosistem industri buku cerita anak serta bisa mempromosikan baca menjadi hal yang menyenangkan bagi anak.


"Memang sampai kapan pun nggak akan ada yang menggantikan pengalaman 'autentik' membaca buku cetak. Aplikasi ini memang nggak bertujuan untuk menggantikan tapi lebih untuk memberikan kemudahan bagi para orang tua yang ada di era digital. Dengan PiBo, anak bisa membaca buku di mana dan kapan saja," kata Aisha dalam kesempatan yang sama.

Mayumi dan Aisha memilih bahasa Indonesia sebagai bahasa yang mendominasi buku bacaan yang ada di PiBo karena mereka menyadari semakin berkembangnya zaman anak-anak nggak terlalu diajarkan dengan bahasa ibu yaitu bahasa Indonesia. Kosakata pun semakin sedikit. Untuk itu, buku bacaan anak di PiBo kebanyakan memakai bahasa Indonesia yang baik dan benar, Bun.

Mayumi menambahkan, bagi para penulis yang independen, namun belum menemukan ilustrator, PiBo bisa memfasilitasinya. Tapi, sebelum itu harus dikurasi terlebih dahulu cerita dari para penulis agar sesuai dengan visi dan misi PiBo.

Bagaimana Bun? Tertarik untuk membacakan buku untuk si kecil dari PiBo? Atau mau jadi penulis buku anak? (aci/vit)
sumber :https://www.haibunda.com

ang mereka gunakan. Mengingat zaman sekarang adalah gadget nggak mungkin bisa dipisahkan dengan kita. Video dan games adalah daya tarik utamanya," ujar Mayumi selaku founder PiBo di acara Peluncuran Platform dan Aplikasi PiBo, di Kopi Kalyan, Jakarta Selatan (20/9/2017).


Read more

Generasi Milenial dan Cetak Biru Literasi

Sejak Orde Baru hingga masa Reformasi kini, kabar yang tidak enak didengar tentang daya literasi bangsa Indonesia selalu didengungkan. Kabar itu apalagi kalau bukan soal minat baca-tulis yang rendah.  Di dalam KBBI V, literasi didefinisikan sebagai ‘kemampuan membaca dan menulis’. Namun, pengertian literasi lebih luas maknanya daripada sekadar baca-tulis.
Nielsen Consumer & Media View (CMV) pada kuartal II 2016 menerbitkan hasil survei di 11 kota di Indonesia tentang minat membaca media cetak dan buku pada generasi milenial. Hasilnya sangat mengejutkan.
Ada 17.000 responden berusia 10 sampai 19 tahun yang mengikuti survei ini. Minat membaca Generasi Milenial atau sering juga disebut Gen-Z ini tinggal 11% untuk buku dan untuk media massa cetak tinggal 9%.  Para Gen-Z itu lebih tinggi minatnya untuk berolahraga (44%), menonton televisi (32%), mendengarkan musik (22%), dan meramban internet (17%). Data ini semestinya makin membuat kita cemas soal keliterasian.
Masih ada data lain yang lebih miris. Selang sebulan setelah Kemendikbud meluncurkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) pada Februari 2016, John Miller, President of Central Connecticut State University (CCSU) di New Britain, Connecticut, AS, seperti dikutip banyak media dunia menyampaikan hasil risetnya tentang peringkat negara di dunia terkait tren perilaku membaca dan keliterasian.
Miller dan timnya mulai mengkaji data dari 200 negara demi mengidentifikasi peringkat keliterasian sebuah negara, tetapi mereka hanya menemukan informasi dan data yang dapat dipercaya pada 61 negara yang kemudian dipublikasikan. Hasilnya, Indonesia menempati posisi 60 dari 61 negara itu. Artinya, Indonesia adalah negara terburuk kedua dalam soal keliterasian—satu tingkat berada di bawah Thailand dan di atas Botswana.
Mengapa literasi itu penting? Di dalam UU No. 3/2017 tentang Sistem Perbukuan (Sisbuk), literasi didefinisikan sebagai berikut: “kemampuan untuk memaknai informasi secara kritis sehingga setiap orang dapat mengakses ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai upaya dalam meningkatkan kualitas hidupnya”. Jadi, tampak bahwa kemampuan literasi itu menjadi krusial di tengah derasnya arus informasi serta perkembangna ilmu pengetahuan dan teknologi.
Inilah yang dikatakan Miller dalam pengantar hasil risetnya, "Apa yang ditampilkan oleh pemeringkatan ini (riset CCSU) terkait keliterasian dunia sangat menyarankan dan menunjukkan bahwa berbagai jenis perilaku literasi sangat penting bagi keberhasilan individu suatu bangsa dalam ekonomi berbasis pengetahuan yang menentukan masa depan global kita.”
Atas dasar kajian tersebut terungkaplah bahwa keandalan literasi sangat menentukan sukses individu suatu bangsa, apalagi dalam menghadapi tantangan global masa depan. Di sisi lain, Indonesia boleh dikatakan justru tidak memiliki cetak biru pengembangan daya literasi, kecuali sebatas program-program yang sifatnya parsial. Bahkan, Kemendikbud era Anies Baswedan dengan gagah memaklumkan Gerakan Literasi, tetapi yang terjadi pelaksanaannya juga parsial. Tiap-tiap direktorat membuat program sendiri tanpa memiliki satu cetak biru yang berlaku secara nasional. Padahal, tujuan yang ingin dicapai adalah sama.
Ignas Kleden (1999) dalam makalahnya berjudul “Buku di Indonesia: Perspektif Ekonomi tentang Kebudayaan” menuliskan “Secara singkat, baik atau buruk, masa kini di Indonesia ditandai oleh teknologi, birokrasi, hukum dan ekonomi kapitalis, dan keadaan ini tidak memungkinkan lagi orang hanya mengandalkan kelisanan tanpa dukungan keberaksaraan sama sekali.”
Artinya, produk tulisan dan bacaan sudah mutlak harus diproduksi sebanyak mungkin untuk memberikan informasi, pengetahuan baru, bahkan hiburan kepada masyarakat sebagai bentuk pencerahan hidup—contohnya pada karya-karya fiksi. Menarik sekali pendapat Ignas bahwa kita jangan termakan oleh simpati-simpati romantis dari bangsa lain seperti pendapat bahwa bangsa Indonesia lebih cocok mengembangkan tradisi lisan yang sudah membudaya. Kita harus mempersiapkan generasi selanjutnya untuk bertarung dalam ekonomi kapitalis yang menurut Miller ke depan akan sangat bergantung pada ekonomi berbasis pengetahuan. Jika tetap mengabaikan literasi, bersiaplah untuk gigit jari. Jika tidak ada cetak biru program literasi secara nasional, bersiaplah untuk gagal.

Bersiap pada Era Disrupsi

Pakar manajemen, Rhenald Kasali, menyampaikan sebuah sindiran dalam tulisannya berjudul “Efek Disrupsi: ‘Besok’ Menjadi Hari ini” (Kompas.com, 24/3). Saat ia menonton “Earth 2050” yang ditayangkan kanal BBC, ia tersenyum-senyum. “Ketika para scientist di berbagai belahan dunia tengah membawa “hari esok” (The Future) ke hari ini, kita banyak menemukan pemimpin, politisi, birokrat, bahkan juga pengusaha dan eksekutif yang masih membawa logika “masa lalu” (The Past) ke dalam pijakan hari ini,” tulisnya.
“Tengok saja aturan-aturan yang berbelit-belit, cara pandang mereka dalam memberantas korupsi, penanganan UMKM, kampanye-kampanye politik yang mereka lakukan, kata-kata yang mereka ucapkan dalam berbagai spanduk dan video yang kita saksikan dalam kanal Youtube, cara penanganan banjir, metode-metode dalam pertanian, sampai ekspor-impor dan kebijakan di sektor keuangan.”
Dalam soal karya dan keberaksaraan, Rhenald kembali menyindir, “Melalui tayangan Earth 2050 tadi saya mulai paham apa yang tengah dikerjakan para ilmuwan di seluruh dunia. Ketika mereka sudah memasuki dunia dengan penilaian “impact” (apa yang telah kamu hasilkan dan berdampak pada kehidupan), ilmuwan-ilmuwan kampus kita baru saja belajar menulis karya ilmiah agar dimuat dalam jurnal internasional dan disitasi via Scopus.”
Kesimpulannya, bagaimana mau menghasilkan generasi muda yang literat jika teladan yang ditunjukkan oleh para pemimpin, politikus, birokrat, akademisi, bahkan pengusaha dan eksekutif di Indonesia adalah antiliterasi. Mereka jarang atau bahkan tidak membaca dan menulis, tetapi secara berapi-api “berbual” di media-media dengan pandangan-pandangannya yang usang.
Era Disrupsi—perubahan radikal yang sangat cepat dan tercerabut dari akar tradisinya—telah muncul di depan mata. Sementara itu, daya keliterasian bangsa kita sebagai fondasi awal tidak makin mengukuh. Ada yang salah dalam bangsa ini meskipun para pakar dan cendekiawan telah berbusa-busa mengingatkannya.
Walaupun begitu, satu harapan tersurat terkait cetak biru literasi bahwa akhirnya Presiden Jokowi mengesahkan UU No. 3/2017 tentang Sistem Perbukuan. Pada UU inilah isitilah ‘literasi dan budaya literasi’ mulai disebut. RUU ini sebelumnya merupakan inisiatif DPR sejak 2014 dan cikal bakal RUU ini sudah direkomendasikan sejak Kongres Perbukuan Nasional I tahun 1995.
Disadari bahwa bagaimanapun cetak biru peningkatan daya literasi bangsa memerlukan payung hukum yang lebih tinggi yaitu UU, tidak lagi sebatas PP atau Permen. Selain itu, UU ini semestinya mendorong para pemangku kepentingan perbukuan untuk melakukan riset literasi sendiri jika kita tidak ingin bergantung pada riset-riset lembaga asing atau internasional yang belum tentu memahami karakteristik keliterasian bangsa Indonesia.

Mulai dari Apa dan Siapa

Cetak biru peningkatan daya literasi semestinya bermula dari hasil riset keliterasian seperti yang sebelumnya disebutkan, lalu dikembangkan menjadi dua pokok soal, yaitu apa yang dibaca dan apa yang ditulis. Belajar dari Proyek Penyediaan Buku Bacaan Sekolah Dasar (PPBBSD) yang pernah diluncurkan oleh pemerintah Orba atau lebih dikenal dengan nama Proyek Inpres, penerbitan buku secara besar-besaran tidak menjamin peningkatan minat baca. Apalagi, kemudian diketahui bahwa banyak buku proyek pemerintah itu tidak layak baca karena ditulis dan diterbitkan secara asal-asalan. Mengapa? Karena saat proyek itu diadakan, bertumbuhlah para penerbit “dadakan” yang hanya mengejar keuntungan semata. Kondisi ini masih terjadi hingga tahun 2000-an.
Mulai dari apa yang dibaca adalah menyiapkan buku-buku dalam tiga kategori, yaitu 1) buku yang wajib dibaca (required reading); 2) buku yang direkomendasikan untuk dibaca (recommended reading); 3) buku pengetahuan umum yang bebas untuk dibaca (general knowledge). Cetak biru peningkatan daya literasi harus menyiapkan daftar untuk dua kategori buku (1 dan 2) pada setiap satuan pendidikan. Saat peserta didik akan masuk ke perguruan tinggi maka mereka dapat dites tentang bacaannya itu dan kemampuannya membaca.
Program penilaian dan pengadaan buku yang dipersiapkan pemerintah ke depan harus mengacu pada kebutuhan buku-buku tersebut. Di dalam aktivitas membaca selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai, harus lebih ditekankan aktivitas membaca secara menye­nangkan dengan penyediaan bahan bacaan yang menarik bagi anak-anak.
Apa indikator buku menarik itu? Saya pernah menulis juga di sini bahwa buku yang menarik adalah buku yang memiliki daya gugah (mendorong seseorang untuk terus membaca), daya ubah (mendorong seseorang untuk berubah ke arah lebih baik), dan daya pikat (mengandung unsur estetis dari segi desain dan tata letaknya). Namun, ketiga faktor itu harus didukung pemahaman tentang perjenjangan (leveling) yang didasarkan pada kemampuan membaca dan tingkat usia pembaca sasaran.
Siapa yang berperan dan mendorong semua ini? Tidak pelak pemerintah, pelaku perbukuan, dan masyarakat, termasuk orangtua dan guru. Pemerintah telah berkewajiban menghadirkan negara dalam soal peningkatan daya literasi ini, terutama dikuatkan dengan UU Sisbuk. Begitupun para pelaku perbukuan sudah mulai diperhatikan hak dan kewajibannya, termasuk profesionalitasnya melalui program sertifikasi dan akreditasi. Pada masanya nanti tidak lagi setiap orang sembarang menulis dan menerbitkan buku, tetapi harus ada jaminan mereka memang menghasilkan buku-buku yang bermutu sesuai dengan standar, kaidah, dan kode etik.
Orangtua dan guru memiliki peran menumbuhkan daya literasi melalui rumah dan sekolah. Di kedua tempat itulah pangkal daya literasi diasah dengan berperannya orangtua serta guru mengenalkan kegiatan literasi yang menyenangkan.  PIRLS (Progress in International Reading Literacy Study) menyebutkan ada sembilan kegiatan yang termasuk pengenalan literasi awal, yaitu membaca buku, bercerita, menyanyikan lagu-lagu, bermain dengan mainan alfabet, berbicara tentang hal-hal yang dilakukan, berbicara tentang bacaan, bermain permainan kata, menulis surat atau kata-kata, membaca tanda-tanda dan label secara nyaring.
Tinggal mengecek apakah orangtua melakukan beberapa dari sembilan kegiatan itu di rumah bersama anak-anaknya? Begitu juga dengan guru. Terkadang kegiatan membaca 15 menit sebelum pelajaran dimulai itu hanya sekadar anak disuruh membaca dengan bahan bacaan yang tersedia, lalu sang guru melakukan kegiatan lain yang tidak ada hubungannya dengan literasi.
Semua negara sekarang menghadapi tantangan Generasi Milenial yang makin tidak sudi untuk membaca, termasuk negara yang sistem pendidikannya terbaik di dunia seperti Finlandia. Beberapa negara mulai serius memperkuat kembali fondasi literasi mereka dengan menyasar target anak-anak dan remaja. Lalu, Indonesia? Kita sama dengan negara-negara itu ketika akhirnya Negara mengeluarkan UU Sisbuk. Ini momentum sejatinya jika kita memang benar-benar ingin berubah.
Lalu, saatnya menanti bagaimana cetak biru keliterasian itu disusun dan disiapkan oleh pemerintah bersama-sama cendekiawan di negeri ini untuk melejitkan bangsa Indonesia pada masa dua puluh tahun yang akan datang. Sudah tidak terbantahkan bahwa daya literasi akan mendorong percepatan kemajuan sebuah bangsa di segala bidang. Jika kita hanya sibuk berwacana, apalagi mengeluhkan soal minat baca-tulis yang seperti lagu lama tak merdu, bersiaplah untuk menempatkan diri sebagai pecundang literasi.
sumber :
krjogja.com/


Read more